Dokter. Belakangan ini saya sering pakai cara “reverse psychology” ke anak saya yang berusia 8 tahun. Misalnya, saat dia malas belajar, saya bilang “ya udah, nggak usah belajar juga nggak apa-apa”, dan anehnya malah jadi mau belajar. Tapi kadang cara ini justru bikin dia ngambek atau merasa saya nggak peduli. Saya jadi bingung, sebenarnya penggunaan reverse psychology seperti ini aman nggak sih u…
Dijawab oleh: d*.
"\n\nAlo, terimakasih atas pertanyaannya.\n\nReverse psychology sering disebut juga dengan strategic self anticonformity (SSA). SSA sendiri merupakan suatu strategi persuasi ketika sumber pengaruh mengharapkan perilaku yang kontradiktif dari target. Dengan kata lain, saat kita ingin orang lain melakukan suatu hal, maka kita justru mengajak pada hal yang sebaliknya. Strategi ini dibuat berdasarkan teori bahwa seseorang kerap merasakan reaksi negatif atau ketidaknyamanan ketika diberi ajakan (persuasi) tertentu.\nMenerapkan strategi reverse psychology dalam berinteraksi dengan anak, yang emosinya cenderung lebih intens dan energinya menggebu-gebu, bisa saja terkesan memudahkan orang tua. Sebab, pada awalnya, kecenderungan anak untuk selalu ingin mencoba hal baru akan membuatnya melakukan hal yang berlawanan dari perintah yang diberikan orang tuanya. Hanya saja, jika strategi ini dilakukan terlalu sering, maka dampaknya bisa jadi berbahaya. Sebab, anak bisa merasa dirinya dimanipulasi ata